Museum Mpu Tantular : Belajar Sejarah dan Budaya

Pada 20 Mei lalu kelas Sosial Budaya dari universitas saya melakukan kunjungan ke Museum Mpu Tantular. Museum ini terletak di Sidoarjo, kira-kira 1 jam perjalanan dari Surabaya Pusat melalui tol. Kira-kira jam 10 kami mulai masuk ke museum ini. Sebelumnya mari kita lihat sejarah dari Museum Mpu Tantular.

Museum Mpu Tantular adalah museum yang berdiri di Sidoarjo, Jawa Timur. Museum ini resmi didirikan oleh Kepala Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Rasiyo, Msi pada tanggal 14 Mei 2004. Museum ini merupakan tempat yang tepat untuk study tour anak-anak sekolah maupun tempat wisata sejarah dan edukasi.

Sebelum diresmikan di Sidoarjo, ternyata museum Mpu Tantular merupakan museum yang sudah berdiri cukup lama namun tempatnya berada di Surabaya.  Museum ini dahulu bertempat di bangunan peninggalan Belanda oleh lembaga Stedelijk Historish Museum Soerabaia pada tahun 1933. Museum terletak di jalan Pemuda no.3 Surabaya. Pada tahun 1955, pendiri museum bernama Von Faber meninggal. Sejak beliau meninggal,  museum ini menjadi tidak terawat dan barang-barang koleksi banyak yang rusak ataupun hilang.

Setelah itu kepemilikan museum berganti ke Yayasan Pendidikan Umum. Pada tahun 1964, museum ini memperoleh pendanaan dari Yayasan Bapak Prof. Dr. M. Soetopo. Kemudian pada tahun 1972, museum Mpu Tantular dinamai Museum Jawa Timur dan pengelolaannya pun digantikan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur. Museum ini resmi berganti status menjadi museum negeri pada tahun 1974. Untuk selanjutnya, nama museum berubah kembali menjadi Museum Mpu Tantular dan dipindahkan ke daerah Sidoarjo.

Museum Mpu Tantular resmi didirikan pada tanggal 14 Mei 2004 oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Rasiyo, Msi di Sidoarjo. Dengan luas total tanah 3,28 hektar, Museum Mpu Tantular dibagi menjadi beberapa bagian. Di depan setelah pintu masuk terdapat sebuah joglo yang bisa untuk duduk-duduk menunggu kawan yang belum datang ke museum. Ada juga bangunan lain seperti Gedung Tata Usaha dan Ruang Kepala Musem, Gedung Pepustakaan, Gedung Pameran Tetap (Gedung Majapahit), Galeri Von Faber, Gedung Pameran Tuna Netra, Ruang Kerja Koleksi, Storage, Gedung Preparasi, Laboratorium Konservasi, Gedung Bimbingan Edukasi. Namun dalam kunjungan ke Museum 20 Mei lalu, kami hanya ke gedung pameran museum dan gedung Galeri Von Faber.

Dengan harga tiket sebesar Rp 3.000,- tentu saja tidaklah mahal untuk berkunjung ke museum ini. Museum Mpu Tantular sendiri memiliki koleksi-koleksi yang menarik. Dari joglo menuju ke gedung museum terdapat patung pahat batu mulai dari Patung Primitif hingga Patung Buddha. Patung-patung ini disusun sedimikian rupa untuk menghiasi taman di depan gedung museum. Begitu melangkah masuk ke dalam museum, kita akan disambut dengan petugas karcis yang akan mengecek karcis. Kemudian langsung bisa melihat koleksi-koleksi museum sejarah ini.

Yang pertama kali saya lihat di sini adalah Duplikat dari Fosil Bofidae, yaitu semacam lembu liar berkuku dua yang sekarang sudah punah. Kita bisa melihat rangka tulang dari Bofidae yang berasal dari Nganjuk ini dipajang di dalam kotak kaca. Jadi di museum ini, hampir semua koleksi berada di dalam kotak kaca. Hal ini membuat koleksinya terawat. Selain itu ada Fosil Tengkorak dari manusia purba termasuk diantaranya Pithecanthropus Erectus dan Homo Sapien. Ada juga koleksi fosil gading dan geraham gajah asal Bojonegoro yang usianya sudah 600.000 – 1.000.000 tahun yang lalu.

Masih dalam Zona Prasejarah, ada berderet-deret koleksi batuan dari batuan beku sampai batuan malihan. Ada juga informasi dan fakta tentang batuan-batuan ini sehingga kami pun bisa belajar. Saya dikagetkan dengan adanya benda sebesar rice cooker bahkan lebih besar, yang ternyata merupakan nekara zaman purba. Nekara ini terbuat dari batu dan mempunyai fungsi sebagai sarana upacara memanggil hujan, juga sebagai sarana penguburan sekunder.

Kemudian beralih ke Zona selanjutnya yaitu Zona Hindu-Buddha. Banyak peninggalan Hindu-Buddha termasuk diantaranya arca Dewa Siwa, Durga Mahesasuramardini. Selanjutnya beralih ke bagian istimewa dari museum ini. Kenapa istimewa? Ya karena selain koleksinya yang diletakkan dalam kotak kaca, ternyata ada jeruji besi yang mengelilingi koleksi-koleksi ini. Bisa tebak apa yang di dalamnya? Hiasan-hiasan emas warisan purbakala jawabannya. Yang kelihatan nama dan infonya adalah Hiasan Garudeya. Hiasan ini diduga merupakan hadiah dari Raja Siam ke Raja Jawa. Hiasan seberat sekitar 1 kg ini terbuat dari emas 22 karat, yang mungkin menjadi alasan mengapa ditempatkan di dalam jeruji besi. Karena dikelilingi oleh jeruji besi ini pula, koleksi-koleksi keemasan lain selain hiasan Garudeya tidak kelihatan informasinya.  Ada juga yang terlihat di museum ini berupa koleksi naskah keislaman yang ditulis di daun lontar maupun kertas. Ada yang ditulis dalam huruf jawa, arab maupun madura.

Memasuki Zona Kolonial dan Pergerakan Kemerdekaan dimana ada koleksi senjata zaman penjajahan dulu serta koleksi setelah kemerdekaan berupa seni ukir, batik, keris dan lainnya. Ternyata tidak hanya koleksi Indonesia yang ditampilkan di Museum Mpu Tantular ini. Ada beberapa, hanya satu dua, namun menunjukkan bahwa ada hubungan antar negara. Salah satunya adalah Vas Jepang yang terbuat dari keramik berwarna putih berhias bunga serta burung bangau berwarna biru.

Yang menarik dari koleksi di lantai satu yang belum disebutkan di atas adalah maket Kapal Dagang Insulinde sebesar sekitar 1/2 meter kali 3 meter. Kapal dagang ini mempunyai peran dalam Perang Dunia I sehingga dilengkapi dengan senjata-senjata termasuk meriam. Ada juga wayang beber yang sejarahnya dimulai pada tahun 1223 Masehi. Wayang beber ini menurut saya menarik karena belum pernah melihat wayang jenis itu sebelumnya dan penampilannya yang berupa gambar-gambar wayang di atas selembar kertas atau daun itu unik.

Kemudian dilanjutkan ke lantai dua. Pertama saya melihat alat-alat kuno yang digunakan pada zaman penjajahan dahulu. Misalnya sepeda tinggi yang dikendarai oleh orang-orang Inggris. Sepeda ini memiliki 2 roda yang ukurannya tidak sama; besar di depan dan kecil di belakang. Ada juga informasi yang menunjukkan bagaimana cara naik sepeda yang tidak lazim ini. Kemudian yang menarik selanjutnya adalah sepeda motor merk Jawa dan Radex yang masing-masing produksi dari Ceko Slovakia dan Jerman. Menggunakan bahan bakar bensin, sepeda motor Jawa dan Radex memiliki rangka yang besar yaitu tinggi 1 meter dan panjang 1,9 meter.

Beralih ke zona selanjutnya yaitu Zona Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di mana ada banyak alat-alat peraga IPTEK yang seharusnya bisa digunakan. Yang menarik dari alat-alat ini salah duanya adalah alat yang bentuknya seperti sederet pipa yang memanjang ke atas dan dua lubang di ujung pipa menghadap ke depan dan ke atas. Alat ini bisa menghasilkan bunyi jika dipukul pada ujung pipa yang menghadap ke atas. Ada 7 tangga nada, yang beberapa diantaranya kurang merdu suaranya. Kemudian yang menarik selanjutnya adalah dua alat seperti pemancar sinyal berbentuk lingkaran seperti alat pemancar tv kabel, di mana dua alat ini diletakkan segaris tetapi dengan jarak 5 meter lebih. Masing-masing alat bisa berfungsi sebagai penghantar suara dan penerima suara. Mungkin ini cikal bakal dari telepon yang ada sekarang.

Tidak berhenti di sini, ternyata ada jembatan penghubung antara gedung pertama dan gedung kedua. Di jembatan penghubung ini lantainya dihiasi dengan prasasti-prasasti kecil di kiri dan kanan jalan. Kemudian di lantai 2 gedung kedua merupakan Zona Koleksi Kesenian. Koleksi yang dipamerkan adalah koleksi kesenian khas Jawa Timur. Terdapat Reog, Jaran Kepang, Gamelan, Wayang, dan lainnya. Setelah puas berkeliling, kami pun turun ke lantai 1. Lantai 1 dari gedung ini berisi busana pengantin Jawa Timuran yang didominasi warna emas, merah, kuning dan hitam. Ada juga kursi-kursi yang berjejer dan layar proyektor yang mungkin bisa digunakan untuk menonton film atau mengajar.

Saya senang bisa ke museum ini karena belum pernah mengunjunginya. Akan tetapi ada beberapa hal yang bisa diperbaiki. Salah satunya adalah papan informasi yang berada di atas kotak kaca sudah bagus dan informatif. Sayangnya ada beberapa koleksi yang diberi nomor dan di atas tidak terdapat nomor tersebut atau di informasinya ada nomor-nomornya sedangkan koleksinya tidak diberi nomor. Hal ini membuat pengunjung bingung. Kemudian soal pencahayaan. Karena waktu itu pagi hari saya kira memang sudah sepantasnya lampunya dimatikan. Namun beberapa ruangan tidak memiliki cahaya yang cukup, sehingga terjadi gelap, terutama di bagian Hindu-Buddha serta Zona Koleksi Kesenian. Kondisi dari alat-alat IPTEK juga kurang terawat dan kurang informasi. Sehingga yang seharusnya bisa digunakan, hanya beberapa saja yang bisa, yang lain tidak. Kemudian soal jeruji besi yang mengunci akses ke Hiasan Garudeya dan koleksi keemasan lainnya membuat pengunjung tidak bisa melihat koleksi lain selain Hiasan Garudeya tersebut. Ini semestinya bisa dicarikan solusi. Di sisi lain Museum Mpu Tantular memiliki banyak koleksi dan ada informasi tertulis yang diberikan. Koleksi-koleksi ini, jika pencahayaan ruangan, informasi, kondisi alat IPTEK dan jeruji besi ini diperbaiki maka akan lebih baik dan menarik orang-orang untuk datang.

Museum Mpu Tantular sendiri berdiri sebagai bentuk pelestarian budaya atau cagar budaya. Sebagai cagar budaya tentu saja memiliki fungsi-fungsi. Beberapa fungsi dari cagar budaya adalah sebagai dokumentasi peninggalan-peninggalan sejarah, tempat pembelajaran sejarah dan budaya dan tidak kalah menariknya Museum Mpu Tantular ini juga bisa digunakan sebagai tempat wisata sejarah dan budaya. Tentu saja dengan perawatan dan inovasi-inovasi untuk mempromosikan museum ini, akan menjadi destinasi wisata, studi dan pelestarian budaya yang bisa dibanggakan.

Berkunjung ke Museum Mpu Tantular sungguh menambah pengetahuan dan kesan baru akan museum-museum Indonesia. Tentu ada hal-hal yang perlu diapresiasi dan juga diatur untuk lebih baik lagi. Ini hanya sebuah saran dari mata seorang pengunjung museum, yaitu bahwa museum ini perlu memiliki Tour Guide yang menjelaskan koleksi-koleksi secara lisan. Sebab orang Indonesia pada umumnya lebih gemar jika dilayani atau diberikan pengetahuan secara lisan dibanding membaca. Kesan saya saat melihat Museum Mpu Tantular ini sebenarnya senang sekaligus miris. Mengutip presiden pertama RI, Bung Karno yang mengatakan : “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.” Maka di akhir tulisan ini, saya akan melengkapi dengan : “Sekali-kali bolehlah mampir ke museum untuk mendekatkan diri pada sejarah tentang negara dan budaya.”

Advertisements